02795 2200289 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020002200100082001000122084001900132100002800151245011900179250003200298300003000330500002300360650002300383700003100406504002800437520189600465264005402361336002102415337003002436338002302466990001602489INLIS00000000116554920250613115444 a0010-0625000056ta250613 g 0 ind  a978-623-359-599-5 a953.1 aSR 953.1 FAD k0 aFadlil Munawwar Manshur1 aKonflik Palestina-Israel dalam dunia sastra dan dunia nyata /cFadlil Munawwar Manshur; penyunting, Siti Nurhayati aCetakan Pertama: Maret 2025 aviii, 68 halaman ;c23 cm aIndeks: halaman 89 4aPalestina, Masalah0 aSiti Nurhayatiepenyunting aBibliografi: halaman 81 aPada November 1947, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan sebuah Resolusi yang membagi Palestina menjadi dua negara, yaitu negara Yahudi—Israel dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya yang berada di bawah administrasi PBB, dan yang satu lagi negara Arab—Palestina. Dunia Arab menolak Resolusi tersebut dengan alasan pembagian itu dianggap tidak adil karena melanggar Piagam PBB. Dalam kondisi kisruh seperti itu, milisi Yahudi—Israel melancarkan serangan terhadap desa-desa Palestina yang mengakibatkan ribuan orang Palestina mengungsi ke negara-negara Arab lain. Akibatnya, terjadilah perang terbuka antara Arab—Palestina dengan Yahudi—Israel pada tahun 1948. Selanjutnya, dengan berakhirnya mandat dan kepergian pasukan Inggris, dideklarasikanlah kemerdekaan negara Yahudi—Israel. Permusuhan permanen antara Palestina dengan Israel ternyata hampir tidak pernah berhenti, bahkan eskalasinya cenderung meningkat dari waktu kewaktu. Permusuhan permanen tersebut kembali terjadi pada tanggal 7 Oktober 2023. Peristiwa ini mengejutkan dunia international, dunia Arab, dan dunia lslam. Akhirnya, kawasan Timur Tengah kembali memanas karena serangan tiba-tiba oleh kelompok Hamas Palestina terhadap Israel di wilayah perbatasan Gaza, tepatnya, pasukan Palestina menyerang Divisi Gaza, sebuah benteng pertahanan militer Israel di Gaza. Hamas menamai serangan mereka sebagai "Operasi Badai Al-Aqsha" yang dalam bahasa Arab disebut Thaufan Al-Aqsha. Filosofi Thaufan Al-Aqsho ini adalah badai yang dahsyat dan ganas yang dapat membawa kematian dan kerusakan yang luas. Thaufan Al-Aqsha juga diartikan sebagai "gelombang besar kemarahan rakyat Palestina." Serangan Palestina yang mengejutkan dunia itu telah menghancurkan Divisi Gaza Israel yang terkenal kuat dan kokoh. Serangan itu sebagai simbol politik utama dan dianggap sebagai tonggak awal kemenangan Palestina. aYogyakarta :bGadjah Mada University Press,c2025 2rdacontentateks 2rdamediaatanpa perantara 2rdacarrieravolume a55818.68638