01923 2200289 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020002200100082001000122084001900132100001400151245008200165250001400247300002500261650001300286700003500299520113800334600001501472264004001487336002101527337003001548338002301578990001601601990001601617INLIS00000000004307920210821031519 a0010-0821000290ta210821 0 ind  a978-602-0708-80-5 a923.2 aSR 923.2 ZAH t0 aZahid, A.1 aTan Malaka dan sosiologi generatif /cA Zahid ;penyunting, Muhammad Ali Fakih aCetakan 1 a192 halaman ;c21 cm 4aBiografi0 aMuhammad Ali Fakihepenyunting aTan Malaka dan Sosiologi Generatif. Pasca-Reformasi, Tan Malaka mungkin adalah aktivis kiri yang paling banyak dibicarakan, setelah sekian lama namanya dikubur oleh rezim Orde Baru. Padahal, ia adalah “Bapak Republik”. Dialah sosok yang menghendaki Indonesia merdeka 100%. Dialah sang menentang apa pun yang anti terhadap nasionalisme. Dialah mantan Ketua Umum PKI yang mengkritisi baik kebijakan PKI maupun Komintern jika hal itu tidak mendukung cita-cita besarnya: bebasnya bangsa Indonesia dari kungkungan kolonialisme-imperialisme. Buku ini merupakan hasil penelitian yang berusaha menguak akar pemikiran dan gerakan Tan Malaka dengan berlandaskan pada teori generatif Pierre Bourdieu. Peneliti menemukan beberapa hal baru mengenai terbentuknya habitus lama dan habitus baru dalam sepak terjang Tan Malaka dari modal yang ia miliki—baik modal ekonomi, modal budaya, modal sosial, maupun modal simbolik—sedemikian rupa sehingga ia memilih arena politik berhaluan kiri untuk cita-cita mulianya: kemerdekaan Indonesia. Dalam semboyannya yang terkenal, ia berkata, “Komunisme bukanlah tujuan, tetapi hanya sebagai alat.”04aTan Malaka aYogyakarta :bCantik Pustaka,c2021 2rdacontentateks 2rdamediaatanpa perantara 2rdacarrieravolume a48076.60896 a48076.60896