01570 2200301 4500001002100000005001500021035002000036090001300056020001800069100002700087650003200114245015700146264001000303008004100313082001400354084002300368250001800391260003600409300004400445700003500489700003300524700003200557504002800589520059900617990001801216990001801234990001601252INLIS00000000002453320220801032932 a0010-0619024533 03.459.82 a979-9471-08-70 aKuntowijoyoepengarang 4aPerubahan Sosial Masyarakat1 aPerubahan sosial dalam masyarakat agraris Madura 1850-1940 /cKuntowijoyo; penerjemah, Machmoed Effendhie, Punang Amaripuja; penyunting, Imam Risdiyanto RCiSoD220801 g 0 ind  a303.45982 aSR 303.45982 KUN p acetakan kedua aYogyakarta :bMatabangsa,c2017 axxiv, 715 halaman :bilustrasi ;c21 cm0 aMachmoed Effendhieepenerjemah0 aPunang Amaripujaepenerjemah0 aImam Risdiyantoepenyunting abibliografi halaman 671 amenarik dalam buku ini adalah kultur pertanian tanah di Madura yang bercorak tanah tegalan dengan tanaman-tanaman lahan kering seperti tebu dan tembakau. Ketika harga dua komoditas ini melejit, Pemerintah Kolonial Belanda memerintahkan penanaman tebu dan tembakau secara besar-besaran di Madura sehingga lahan tanaman pangan pun tergusur. Ketika jumlah padi lahan basah sedikit, dan maish tergusur untuk penanaman temu dan tembakau, maka tanaman pangan pun semakin langka. Akibatnya, kelaparan pun melanda. Peristiwa inilah yang kemudian mendorong pecahnya pemberontakan petani pada abad ke-19. a029274.047070 a029915.047792 a49392.62212